SANG MATADOR

>> Selasa, 02 Februari 2010

Pria itu terus bergumul dengan sehelai kain merah yang dibawanya dari setadi, debu stadion yang mulai berserahkan membuat nafasnya terengah engah namun dengan kekuatan hati tak ia tampakkan keletihannya setelah bergumul dengan kebuasan dan amarah tersebut.

Matanya terus tertuju pada sudut lapangan tersebut seolah olah siap menantikan badai yang akan menerjangnya seketika, keringat terus membasahi wajahnya yang putih , sambil matanya tetap menatap lurus dan fokus pada hal yang telah lama ia nanti nantikan .

Tak selang berapa lama kemudian seiring dengan detak jantungnya yang mulai berdegup kencang memacu adrenalin nya , terlihat sebuah bayangan hitam yang berlari kehadapannya dengan kecepatan penuh dan mata merah penuh amarah, perasaannya berkata "lari ricardo . . ., lari atau kau akan mampus diserang oleh banteng yang sedang marah itu " , namun tak didengarnya suara yang berkelebat dalam pikirannya itu, ia tetap tenang berdiri menyambut badai dari bayangan hitam yang melaju kepada nya , dan jarak sepuluh meter kemudian terlihatlah bayangan hitam itu mulai menukikkan tanduknya yang tajam dan berbahaya sambil mata monster itu terus melihat nanar dengan pandangan penuh amarah pada kain merah yang sejak tadi telah dibentangkannya tepat didepan dadanya.

Dia tetap berdiri tegak tanpa bergeser se inchi pun dari tempat ia berdiri, lalu secepat kilat tiba tiba semuanya menjadi merah dimatanya. . . . . , dan monster raksasa tersebut telah tersungkur disamping pemuda itu tepat beberapa meter disisi kirinya , lemas kehabisan nafas. dan pemuda itu sesaat kemudian memandang banteng hitam besar yang telah tersungkur itu dengan senyum kecil kepuasan dan kemenangan , sambil membungkukkan badan menghormat kepada para penonton , dengan diiringi tepuk tangan yang gegap gempita SANG MATADOR dengan tenang berjalan masuk kedalam pintu yang dari mula ia keluar.

Satu senyum yang sangat berarti bahwa ia telah taklukkan banteng hitam itu yang saat ini hanya tinggal kenangan dan pembelajaran dan bersiap untuk menghadapi banteng yang lebih ganas dan lebih brutal lagi, tetapi . . . . tetap dengan ketenangan yang mantap serta kecermatan mengambil momentum dari setiap pergerakan yang ada , fokus pada pendiriannya yang kokoh

MACAM MACAM ARTIKEL © 2008 Por *Muhammad kusaeni*